Cerita ini di kutip darihttp://www.perempuan.com/index.
Suatu malam, aku bertengkar dengan ibuku. Karena sangat marah, aku segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Saat berjalan aku baru menyadari bahwa aku sama sekali tidak membawa uang. Saat menyusuri sebuah jalan, aku melewati sebuah kedai bakmi dan mencium harumnya aroma masakan. aku ingin sekali memesan semangkuk bakmi, tetapi tidak mempunyai uang.
Pemilik kedai melihat kearahku berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata: “Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?”
“Ya, tetapi, aku tidak membawa uang”, jawabku dengan malu-malu.
“Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu”, jawab si pemilik kedai. “Silakan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu”.
Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi.
Aku segera makan beberapa suap, kemudian air mataku mulai berlinang.
“Ada apa nona?”, tanya si pemilik kedai.
“Tidak apa-apa, aku hanya terharu" jawabku sambil mengeringkan air mata.
Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi ! Tetapi, ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi
Bapak itu, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri. Aku berkeluh kesah kepada pemilik kedai mengenai hal ini.
Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataanku, menarik nafas panjang lalu berkata, “Nona, mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi untukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya”. Aku sempat kaget mendengar hal itu.
Mengapa aku tidak berpikir tentang hal itu? Untuk semangkuk bakmi dari orang yang baru kukenal , aku begitu berterima kasih. Tetapi kepada ibuku yg memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya
AKu segera menghabiskan bakmi, lalu aku menguatkan diri untuk segera pulang ke rumah. Saat berjalan ke rumah, aku memikirkan kata-kata yg harus diucapkan kepada ibu. Begitu sampai di ambang pintu rumah, aku melihat ibu berwajah letih dan cemas. Ketika bertemu dengannya, kalimat pertama yang keluar dari mulut ibu adalah,”Nak, kau sudah pulang. Cepat masuklah, Ibu telah menyiapkan makan malam. Makanlah dahulu sebelum kau tidur. Makanan akan dingin jika kau tidak memakannya sekarang”.
Aku tidak dapat menahan tangis. Aku pun menangis di pelukan ibu.
Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kepada orang lain di sekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan kepada kita. Tetapi kepada orang yang sangat dekat dengan kita, khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita berterima kasih kepada mereka seumur hidup kita. Kadang-kadang, kita sulit atau lebih tepatnya tidak mau untuk melihat dan menghargai pertolongan yang diberikan oleh orang-orang yang sudah sangat kita kenal. Untuk menghargai cinta kasih mereka. Kita menganggap itu sebagai suatu keharusan. Sebuah kewajiban.
Senin, 19 Juli 2010
Kamis, 04 Maret 2010
Sebuah Tali Yang Tak Pernah Putus
Kisah Ini Patut Untuk Direnungkan, Sebagai Manuasia Kita Mesti Berbuat Kasih Kepada Sesama Kita, Mulai Hari Ini Jika anda Membaca Kisah Ini semoga Bisa Membawa Cara Pandang Anda Akan Cara Mulia Memperlakukan Orang Tua Kita Masing-Masing.
============================================================
Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih. Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah. Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak.
Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. “Kita harus lakukan sesuatu, ” ujar sang suami. “Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk pak tua ini.” Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan. Disana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan mangkuk kayu untuk si kakek.
Sering, saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi. Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam.
Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. “Kamu sedang membuat apa?” Anaknya menjawab, “Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu untuk makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat kakek biasa makan.” Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.
Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, airmatapun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki. Malam itu, mereka menuntun tangan si kakek untuk kembali makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama.
Anak-anak adalah persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan. Mereka adalah peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa kelak. Orangtua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap “bangunan jiwa” yang disusun, adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anak.
Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk anak-anak kita, untuk masa depan kita, untuk semuanya. Sebab, untuk mereka lah kita akan selalu belajar, bahwa berbuat baik pada orang lain, adalah sama halnya dengan tabungan masa depan.
============================================================
Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih. Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah. Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak.
Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. “Kita harus lakukan sesuatu, ” ujar sang suami. “Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk pak tua ini.” Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan. Disana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan mangkuk kayu untuk si kakek.
Sering, saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi. Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam.
Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. “Kamu sedang membuat apa?” Anaknya menjawab, “Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu untuk makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat kakek biasa makan.” Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.
Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, airmatapun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki. Malam itu, mereka menuntun tangan si kakek untuk kembali makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama.
Anak-anak adalah persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan. Mereka adalah peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa kelak. Orangtua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap “bangunan jiwa” yang disusun, adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anak.
Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk anak-anak kita, untuk masa depan kita, untuk semuanya. Sebab, untuk mereka lah kita akan selalu belajar, bahwa berbuat baik pada orang lain, adalah sama halnya dengan tabungan masa depan.
Senin, 01 Maret 2010
Takdir Tak Bisa Dirubah
Kisah iniadalah kisah sangat Mengharukan saya berharap manusia jangan mementingkan materi tetapi berusahalah melindungi dan memberi cinta kepada orang yang membutuhkannya apalagi itu adalah dara daging kita sendiri selamat membaca.
=======================================================================
....Aku ingat betul saat pertama kali menjadi seorang mahasiswi di negeri orang. Tepatnya di Kuala Lumpur, Malaysia. Saat itu aku tinggal dirumah orangtua asuh, Pak Syamsul dan Istrinya yang baik hati. Disebelah rumah Pak Syamsul, aku sering melihat gadis kecil tanpa tangan bermain girang bersama kedua orangtuanya. Dalam hati aku salut kepada pasangan orangtua tersebut. Mereka terlihat penuh cinta kasih dan sabar merawat anaknya yang cacat. "Mereka orangtua yang baik ya, pak?" ujarku.
"Ya, mereka sangat baik karena Allah menegur mereka," kata pak syamsul.
"Maksudnya?"
"Sini saya ceritakan," jelas bapak paruh baya itu.
Mereka umumnya sepasang suami isteri - seperti pasangan lain di kota-kota besar - meninggalkan anak-anak mereka untuk diasuh pembantu rumah tangga selama bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan berusia tiga setengah tahun, sendirian di rumah. Dia kerap dibiarkan pembantunya yang sibuk bekerja bermain di luar, tetapi pintu pagar tetap dikunci. Bermainlah dia di ayunan taman belakang rumah, atau memetik bunga dan lain-lain yang bisa dilakukan di halaman rumah.
Suatu hari dia melihat sebatang paku berkarat. Dia pun mencoret semen tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi kerana lantainya terbuat dari marmer, coretannya tidak kelihatan.
Dicobanya pada mobil baru ayahnya. Ya, karena mobil itu bewarna gelap, coretannya tampak jelas. Lantas si kecil ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya. Hari itu bapak dan ibunya hendak menggunakan mobil ke tempat kerja karena macet. Setelah penuh coretan yang
sebelah kanan dia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan sebagainya mengikuti imaginasinya. Kejadian itu berlangsung
tanpa disadari si pembantu.
Sepulang kerja petang itu, pasangan tersebut terkejut melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran, menjadi rusak. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah pun
menjerit, "Kerjaan siapa ini?" Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan 'Tak tahu, Tuan!" Lalu si Nyonya rumah berkata, "Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yang kau lakukan?" hardiknya lagi. Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata "Ita yg membuat itu abah. Cantik kan," katanya sambil memeluk abahnya ingin bermanja seperti biasa
Si ayah yang hilang kesabaran mengambil sebuah bilah kayu hiasan ruang tamu yang ada di dekatnya. Lalu dengan membabi buta dipukulnya sang anak berkali-kali, tepat di telapak tangan si kecil. Ita yang tak mengerti apa-apa menangis kesakitan sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula punggung tangan anaknya. Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dijatuhkan ke anak tunggalnya tersebut.
Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa. Si bapak seolah kesetanan memukul-mukul tangan kanan dan kemudian tangan kiri anaknya. Setelah kedua orangtua Ita masuk kedalam kamar, pembantu rumah tangga itu menggendong Ita, membawanya ke kamar. Dilihatnya telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka dan berdarah.
Pembantu rumah kemudian memandikan Ita. Sambil menyiram air dia pun ikut menangis. Anak kecil itu juga terjerit-jerit menahan kepedihan saat luka-lukanya itu terkena air. Si pembantu rumah kemudian menidurkan anak kecil itu. Meski tahu Ita ditidurkan pembantu mereka, tak tergerak sedikitpun nurani kedua orangtua Ita untuk memeluk anaknya dan menidurkan Ita tepat disamping mereka.
Keesokan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu. "Oleskan obat saja!" jawab tuannya. Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anaknya itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu.
Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu tetapi setiap hari bertanya kepada pembantu rumah.
"Ita demam, bu " jawab pembantunya.
"Kasih minum obat," jawab si ibu datar. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Ita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lg pintu kamar pembantunya.
Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Ita terlalu panas. "Sore nanti kita bawa ke klinik. Pukul 05.00 sudah siap, ya" kata majikannya itu.
Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan ia dirujuk ke rumah sakit ternama karena keadaannya sangat serius. Setelah seminggu di rawat inap, doktoe memanggil bapak dan ibu anak itu. "Tidak ada pilihan." katanya sembari mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena luka yang terjadi sudah terlalu parah.
"Lukanya sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya kedua tangannya perlu diamputasi dari siku ke bawah" kata doktor. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan. Si ibu menangis dan merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si bapak bergetar menanda-tangani surat persetujuan pembedahan.
Keluar dari bilik pembedahan, selepas obat bius yang disuntikkan habis, Ita menangis kesakitan. Dia heran melihatkedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, Ita pun bersuara dalam linangan air mata. "Abah, Mama, Ita tidak akan melakukannya lagi. Ita tak mau abah pukul. Ita tak mau jahat. Ita sayang
ayah, sayang mama." katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya.
"Ita juga sayang Mbak Narti." katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuatkan perempuan dari Surabaya itu menangis histeris.
"Abah, kembalikan tangan Ita. Untuk apa diambil, bah? Ita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Ita mau makan nanti? bagaimana Ita mau bermain nanti? Ita janji tidak akan mencoret-coret mobil lagi," katanya berulang-ulang.
Serasa copot jantung si ibu mendengar kata-kata anaknya. Dia hanya menangis sekuat tenaga namun apa daya takdir sudah terjadi. Kedua orangtua Ita hanya menyesali perbuatannya.
=======================================================================
....Aku ingat betul saat pertama kali menjadi seorang mahasiswi di negeri orang. Tepatnya di Kuala Lumpur, Malaysia. Saat itu aku tinggal dirumah orangtua asuh, Pak Syamsul dan Istrinya yang baik hati. Disebelah rumah Pak Syamsul, aku sering melihat gadis kecil tanpa tangan bermain girang bersama kedua orangtuanya. Dalam hati aku salut kepada pasangan orangtua tersebut. Mereka terlihat penuh cinta kasih dan sabar merawat anaknya yang cacat. "Mereka orangtua yang baik ya, pak?" ujarku.
"Ya, mereka sangat baik karena Allah menegur mereka," kata pak syamsul.
"Maksudnya?"
"Sini saya ceritakan," jelas bapak paruh baya itu.
Mereka umumnya sepasang suami isteri - seperti pasangan lain di kota-kota besar - meninggalkan anak-anak mereka untuk diasuh pembantu rumah tangga selama bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan berusia tiga setengah tahun, sendirian di rumah. Dia kerap dibiarkan pembantunya yang sibuk bekerja bermain di luar, tetapi pintu pagar tetap dikunci. Bermainlah dia di ayunan taman belakang rumah, atau memetik bunga dan lain-lain yang bisa dilakukan di halaman rumah.
Suatu hari dia melihat sebatang paku berkarat. Dia pun mencoret semen tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi kerana lantainya terbuat dari marmer, coretannya tidak kelihatan.
Dicobanya pada mobil baru ayahnya. Ya, karena mobil itu bewarna gelap, coretannya tampak jelas. Lantas si kecil ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya. Hari itu bapak dan ibunya hendak menggunakan mobil ke tempat kerja karena macet. Setelah penuh coretan yang
sebelah kanan dia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan sebagainya mengikuti imaginasinya. Kejadian itu berlangsung
tanpa disadari si pembantu.
Sepulang kerja petang itu, pasangan tersebut terkejut melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran, menjadi rusak. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah pun
menjerit, "Kerjaan siapa ini?" Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan 'Tak tahu, Tuan!" Lalu si Nyonya rumah berkata, "Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yang kau lakukan?" hardiknya lagi. Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata "Ita yg membuat itu abah. Cantik kan," katanya sambil memeluk abahnya ingin bermanja seperti biasa
Si ayah yang hilang kesabaran mengambil sebuah bilah kayu hiasan ruang tamu yang ada di dekatnya. Lalu dengan membabi buta dipukulnya sang anak berkali-kali, tepat di telapak tangan si kecil. Ita yang tak mengerti apa-apa menangis kesakitan sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula punggung tangan anaknya. Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dijatuhkan ke anak tunggalnya tersebut.
Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa. Si bapak seolah kesetanan memukul-mukul tangan kanan dan kemudian tangan kiri anaknya. Setelah kedua orangtua Ita masuk kedalam kamar, pembantu rumah tangga itu menggendong Ita, membawanya ke kamar. Dilihatnya telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka dan berdarah.
Pembantu rumah kemudian memandikan Ita. Sambil menyiram air dia pun ikut menangis. Anak kecil itu juga terjerit-jerit menahan kepedihan saat luka-lukanya itu terkena air. Si pembantu rumah kemudian menidurkan anak kecil itu. Meski tahu Ita ditidurkan pembantu mereka, tak tergerak sedikitpun nurani kedua orangtua Ita untuk memeluk anaknya dan menidurkan Ita tepat disamping mereka.
Keesokan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu. "Oleskan obat saja!" jawab tuannya. Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anaknya itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu.
Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu tetapi setiap hari bertanya kepada pembantu rumah.
"Ita demam, bu " jawab pembantunya.
"Kasih minum obat," jawab si ibu datar. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Ita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lg pintu kamar pembantunya.
Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Ita terlalu panas. "Sore nanti kita bawa ke klinik. Pukul 05.00 sudah siap, ya" kata majikannya itu.
Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan ia dirujuk ke rumah sakit ternama karena keadaannya sangat serius. Setelah seminggu di rawat inap, doktoe memanggil bapak dan ibu anak itu. "Tidak ada pilihan." katanya sembari mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena luka yang terjadi sudah terlalu parah.
"Lukanya sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya kedua tangannya perlu diamputasi dari siku ke bawah" kata doktor. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan. Si ibu menangis dan merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si bapak bergetar menanda-tangani surat persetujuan pembedahan.
Keluar dari bilik pembedahan, selepas obat bius yang disuntikkan habis, Ita menangis kesakitan. Dia heran melihatkedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, Ita pun bersuara dalam linangan air mata. "Abah, Mama, Ita tidak akan melakukannya lagi. Ita tak mau abah pukul. Ita tak mau jahat. Ita sayang
ayah, sayang mama." katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya.
"Ita juga sayang Mbak Narti." katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuatkan perempuan dari Surabaya itu menangis histeris.
"Abah, kembalikan tangan Ita. Untuk apa diambil, bah? Ita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Ita mau makan nanti? bagaimana Ita mau bermain nanti? Ita janji tidak akan mencoret-coret mobil lagi," katanya berulang-ulang.
Serasa copot jantung si ibu mendengar kata-kata anaknya. Dia hanya menangis sekuat tenaga namun apa daya takdir sudah terjadi. Kedua orangtua Ita hanya menyesali perbuatannya.
Selasa, 25 Agustus 2009
Lisaun Moris
Maluk sira ita nungka hatene antes katak ita loron ida sei moris iha mundu ne’e, ne los ka lae? maibe ita hatene momos katak iha loron ida ita sei fila fali sai ahuk desan. Tuir hau nian hanoin ne maka naran misteriu moris nian katak moris ne ita lahatene antes katak ita atu moris iha mundu ne’e, nomos ita lahatene bainhira maka ita atu fila ka mate hela mundu ida ne’e, ita ema so hatene momos katak ita sei la dura iha moris ne laran.
Paragraph dahuluk hau foti iha hanoin ida ne’e tamba esperiensia moris ita ema dala barak haluha katak moris ne loas fin rohan laek, miabe moris ne’e hanesan viajen spritual ida nebe sai hanesan test hahalok ema nudar Ilas Nai Maromak Nian.
Iha ita nian moris kadaves ema halo att ba malu, la fo liman atu dame ba malu, ema balun foti an, ema balun lakoi preokupa ho ema seluk nia terus buat sira ne’e hotu ema nebe moris iha globe ne’e sempre hasoru miabe atetudi atu resolve problema ema idak- idak maka la hanesan. Nudar Sarani Kristaun Katholiku ita tengki saran an ba Nai Jesus nudar ita nia espelu ka mapa atu lori lao. Nai Jesus Nian Ukun fuan boot Liu maka Hadomi Malu Hanesan ita hadomi ita an rasik. Maibe Nudar Maromak oan ita labele haluha katak ukun fuan boot liu maka hadomi Nai Maromak Liu sasan hotu hotu iha mundu rai laran.
Lia fuan principal husi Aman Maromak no Jesus Kristu maka Lia fuan Domin.Hatudu katak moris tengki kuda no haburas domin, So ho domin maka ita sei manan buat sasan hotu, so ho domin maka ita ema moris iha hakmatek laran, nomos so ho domin maka ita fuan laran hakmatek iha Nai Nian Kadunan.
Hau iha esperiensia ida nebe hau hakarak fahe ba ema seluk; istoria ne akontese wainhira permeiru hau tama servisu ho ema nebe hau nungka kunyese. biban neba hau lahatene saida maka hau atu hala’o iha servisu fatin obstabklu boot tan maka iha servisu laran administrasaun uja lian englesh para halo servisu, ho aten kiik no fuan nakdoko hau hasoru polimik ida ne, tempu neba maluk servisu hamutuk ho hau laiha vontade atu ajuda hau ho laran, exemplu deit atu solur kopu foer hau sira lahatudu fatin nebe lolos atu fase ka solur kopu foer, amigu ne’e hatudu fatin seluk ba hau hodi nune hau bele fase hau nian kopu. Lori tempu naruk ituan maka hau hetan fatin solur kopu foer. Iha bibab hau hatene katak hau nia Amigu servisu la honestu hatudu fatin los mai hau nudar ema hau laran moras maibe hau nungka rai odio ba sira. Alende buat kiik hanesan leten sa tan servisu nebe boot liu hau nian amigo servisu nungka hanorin ka hatudu buat los mai hau, Amigo sira subar matenek barak mai hau no sira fahe formula nebe la los nebe uja hodi kalkula iha servisu fatin. Buat Sira ne hotu akontese maibe hau sempre haforti hau nia aten atu labele tauk no tengkiser buka tuir mesak ho dalan estuda mesak. No fin Maromak boot hatudu mai hau katak ita ema ho domin sei Manan buat hotu tuir dalan los, depois tinan rua laran servisu no halo evaluasaun ami nian kantor akontese mudansa barak inklui mos hau. Hau nebe uluk ema labale depois de evaluasaun hetan pontu boot liu amigu sira seluk no hetan aumenta responsabilidade atu hala’o knar servisu. Polimik la hotu depois de evaluasaun amigu balun la satisfas ho rejultadu no koko husu rajaun oioin maibe desijaun nebe foti labele muda ho ida ate agora iha servisu fatin hau sai hanesan ema kiik ida nebe ema balun la satisfas nafatin ho hau nian posisaun, Maibe ba hau ne’e hanesan grasa ida nebe Nai fo mai hau atu hatudu ba maluk seluk katak moris iha mundu tengki hare malu no fo domin ba malu so ho ida ne’e buat nebe ita la espera Nai Maromak rasik maka sei tau rasik mai ita nia moris.
Maske ita ema laiha ida maka perfeitu iha ninian vida maibe ita tengki iha dever halo diak ba malu. Tamba sa hau dehan nune tamba moris ne’e misteriu ida ita la hatene saida maka sei akontese aban no ita labele fila fali hadia sala nebe ita halo tiha antes neba ita ema moris so bele hala’o moris nebe ita hasoru agora dadauk iha ita nian oin ho rajaun simples ne maka ita persija prense moris ohin no ba oin ho deit halo diak ba ema seluk no fahe domin ba ema seluk hanesan ita hadomi Nai Maromak no Nai Jesus.
Ikus liu hau espera katak maluk sira nebe le hau nia hakerek ne'e bele hetan motifasun no halo diak ba ema seluk no kria dame iha nebe nebe deit iha ita moris.
Adeus ba Tempu ohin' kundu iha buat balun hau hetan maka hau fahe ba maluk sira. obrigado. Nai Hakraik Bensaun mai ema nebe Fiar iha Nia. AMIN
ORASAUN
NAI MAROMAK AMAN LARAN LUAK
HAU HADOMI ITA BOOT LIU SASAN HOTU HOTU
HAU AGRADESE BA ITA BOOT NAI TAMBA, ITABOOT MAK FATIN DOMIN NO HAKMATEK NIAN ……………….
HAU SARAN ANN TOMAK BA ITA BOOT NAI MAROMAK ESPERITU SANTU
FIAR METIN IHA ITA BOOT KATAK, NAI LARAN LUAK SEI FOTI HAU SAI HUSI TENTASAUN TOMAK..............
AMAN NEBE HADOMI AMI, LIU HUSI NAI JESUS KRISTU HAU ATAN HUSU BA ITA NAI PERDUA AMI SALA NO FO KBIIT MAI HAU ATU HASES AN HUSI SALA NEBE ATU HADOK HAU ATAN HUSI NAI.................
HAU FIAR NAI MAROMAK TAMBA NAI MAKA HAU NIA FATIN NO SALVASAUN ....................
HAU ATAN HUSU NE LIU HUSI NAI JESUS KRISTU NIA GRASA HAMUTUK HO ESPERITU SANTU AMIN................
Paragraph dahuluk hau foti iha hanoin ida ne’e tamba esperiensia moris ita ema dala barak haluha katak moris ne loas fin rohan laek, miabe moris ne’e hanesan viajen spritual ida nebe sai hanesan test hahalok ema nudar Ilas Nai Maromak Nian.
Iha ita nian moris kadaves ema halo att ba malu, la fo liman atu dame ba malu, ema balun foti an, ema balun lakoi preokupa ho ema seluk nia terus buat sira ne’e hotu ema nebe moris iha globe ne’e sempre hasoru miabe atetudi atu resolve problema ema idak- idak maka la hanesan. Nudar Sarani Kristaun Katholiku ita tengki saran an ba Nai Jesus nudar ita nia espelu ka mapa atu lori lao. Nai Jesus Nian Ukun fuan boot Liu maka Hadomi Malu Hanesan ita hadomi ita an rasik. Maibe Nudar Maromak oan ita labele haluha katak ukun fuan boot liu maka hadomi Nai Maromak Liu sasan hotu hotu iha mundu rai laran.
Lia fuan principal husi Aman Maromak no Jesus Kristu maka Lia fuan Domin.Hatudu katak moris tengki kuda no haburas domin, So ho domin maka ita sei manan buat sasan hotu, so ho domin maka ita ema moris iha hakmatek laran, nomos so ho domin maka ita fuan laran hakmatek iha Nai Nian Kadunan.
Hau iha esperiensia ida nebe hau hakarak fahe ba ema seluk; istoria ne akontese wainhira permeiru hau tama servisu ho ema nebe hau nungka kunyese. biban neba hau lahatene saida maka hau atu hala’o iha servisu fatin obstabklu boot tan maka iha servisu laran administrasaun uja lian englesh para halo servisu, ho aten kiik no fuan nakdoko hau hasoru polimik ida ne, tempu neba maluk servisu hamutuk ho hau laiha vontade atu ajuda hau ho laran, exemplu deit atu solur kopu foer hau sira lahatudu fatin nebe lolos atu fase ka solur kopu foer, amigu ne’e hatudu fatin seluk ba hau hodi nune hau bele fase hau nian kopu. Lori tempu naruk ituan maka hau hetan fatin solur kopu foer. Iha bibab hau hatene katak hau nia Amigu servisu la honestu hatudu fatin los mai hau nudar ema hau laran moras maibe hau nungka rai odio ba sira. Alende buat kiik hanesan leten sa tan servisu nebe boot liu hau nian amigo servisu nungka hanorin ka hatudu buat los mai hau, Amigo sira subar matenek barak mai hau no sira fahe formula nebe la los nebe uja hodi kalkula iha servisu fatin. Buat Sira ne hotu akontese maibe hau sempre haforti hau nia aten atu labele tauk no tengkiser buka tuir mesak ho dalan estuda mesak. No fin Maromak boot hatudu mai hau katak ita ema ho domin sei Manan buat hotu tuir dalan los, depois tinan rua laran servisu no halo evaluasaun ami nian kantor akontese mudansa barak inklui mos hau. Hau nebe uluk ema labale depois de evaluasaun hetan pontu boot liu amigu sira seluk no hetan aumenta responsabilidade atu hala’o knar servisu. Polimik la hotu depois de evaluasaun amigu balun la satisfas ho rejultadu no koko husu rajaun oioin maibe desijaun nebe foti labele muda ho ida ate agora iha servisu fatin hau sai hanesan ema kiik ida nebe ema balun la satisfas nafatin ho hau nian posisaun, Maibe ba hau ne’e hanesan grasa ida nebe Nai fo mai hau atu hatudu ba maluk seluk katak moris iha mundu tengki hare malu no fo domin ba malu so ho ida ne’e buat nebe ita la espera Nai Maromak rasik maka sei tau rasik mai ita nia moris.
Maske ita ema laiha ida maka perfeitu iha ninian vida maibe ita tengki iha dever halo diak ba malu. Tamba sa hau dehan nune tamba moris ne’e misteriu ida ita la hatene saida maka sei akontese aban no ita labele fila fali hadia sala nebe ita halo tiha antes neba ita ema moris so bele hala’o moris nebe ita hasoru agora dadauk iha ita nian oin ho rajaun simples ne maka ita persija prense moris ohin no ba oin ho deit halo diak ba ema seluk no fahe domin ba ema seluk hanesan ita hadomi Nai Maromak no Nai Jesus.
Ikus liu hau espera katak maluk sira nebe le hau nia hakerek ne'e bele hetan motifasun no halo diak ba ema seluk no kria dame iha nebe nebe deit iha ita moris.
Adeus ba Tempu ohin' kundu iha buat balun hau hetan maka hau fahe ba maluk sira. obrigado. Nai Hakraik Bensaun mai ema nebe Fiar iha Nia. AMIN
ORASAUN
NAI MAROMAK AMAN LARAN LUAK
HAU HADOMI ITA BOOT LIU SASAN HOTU HOTU
HAU AGRADESE BA ITA BOOT NAI TAMBA, ITABOOT MAK FATIN DOMIN NO HAKMATEK NIAN ……………….
HAU SARAN ANN TOMAK BA ITA BOOT NAI MAROMAK ESPERITU SANTU
FIAR METIN IHA ITA BOOT KATAK, NAI LARAN LUAK SEI FOTI HAU SAI HUSI TENTASAUN TOMAK..............
AMAN NEBE HADOMI AMI, LIU HUSI NAI JESUS KRISTU HAU ATAN HUSU BA ITA NAI PERDUA AMI SALA NO FO KBIIT MAI HAU ATU HASES AN HUSI SALA NEBE ATU HADOK HAU ATAN HUSI NAI.................
HAU FIAR NAI MAROMAK TAMBA NAI MAKA HAU NIA FATIN NO SALVASAUN ....................
HAU ATAN HUSU NE LIU HUSI NAI JESUS KRISTU NIA GRASA HAMUTUK HO ESPERITU SANTU AMIN................
Rabu, 29 Juli 2009
Santa Perawan Maria, Mempelai Allah Roh Kudus
Hakerek iha okos ne foti husi
http://www.carmelia.net
PERANAN MARIA
Dalam kehidupan orang katolik, Maria memainkan peranan yang sangat penting. Sejak semula Maria telah mendapat tempat yang penting di dalam kehidupan orang-orang Katolik. Maria dihormati karena peranannya di dalam misteri keselamatan yang dinyatakan dalam misteri-misteri hidup Kristus sendiri. Sebagai Bunda Kristus, Maria ikut serta dalam peristiwa-peristiwa hidup Kristus yang membawa keselamatan bagi seluruh umat manusia. Seperti yang diungkapkan dalam Konstitusi Dogmatis ‘De Ecclesia’:
“Dalam mengandung, melahirkan, dan mempersembahkan Kristus kepada Bapa serta dalam menderita bersama dengan Puteranya menjelang wafat-Nya di salib, Santa Perawan Maria ikut serta secara khas sekali dalam karya Penyelamatan dengan ketaatan iman, pengharapan, dan cinta kasih yang bernyala-nyala.”
Karena itu, ekses-ekses yang salah terhadap Maria yang terjadi dewasa ini dapat melunturkan peranan Maria dalam kehidupan kita. Sehingga dirasakan betapa perlunya memiliki pandangan yang benar mengenai peranan Bunda Maria bagi kita semua.
Peranan itu sungguh besar dalam kehidupan kita di dunia ini. Maria adalah bunda Tuhan kita Yesus Kristus, sekaligus juga merupakan bunda Gereja dan seluruh umat beriman. Karena Maria taat kepada Allah maka Maria menjadi puteri Allah yang sangat dikasihi-Nya dan Maria merupakan karya yang terindah dari Allah. Maria adalah gambaran dari manusia yang terpenuhi dalam kebesaran Allah, ia menjadi model bagi setiap manusia yang harus dicapai sampai kepenuhannya, yang harus dicapai seluruh umat manusia karena kuasa Roh Kudus. Maria menyadari semata-mata hanya karena rahmat Roh Kudus saja ia menerima peranannya sebagai bunda dalam ketergantungan yang total kepada Allah. Karena itu dalam nyanyian Maria yang kita kenal dengan Kidung Maria dikatakan “dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.” (Luk. 1:47-49)
Jelaslah, Maria menjadi model dan teladan bagi kita atas segala yang ada di dalam dirinya. Kita akan menjadi besar kalau kita menyadari, mengakui, dan menghayati ketergantungan kita dari Allah dan menyadari peranan Roh Kudus di dalam kehidupan Maria. Di dalam segala situasi Maria selalu ada mendampingi Gereja dalam peziarahan imannya sampai kepada akhir perjalanannya.
Ketika tiba waktunya, Maria, Bunda Allah yang suci dan murni dan tetap perawan, adalah mahkota perutusan Putera dan Roh Kudus. Karena Roh mempersiapkannya, Bapa dalam keputusan keselamatannya-Nya menemukan untuk pertama kalinya tempat tinggal, di mana Putera-Nya dan Roh-Nya dapat tinggal di antara manusia. Dalam arti ini tradisi Gereja mengenakan teks-teks terindah tentang kebijaksanaan pada Maria. Maria dipuji dan ditampilkan di dalam liturgi sebagai ‘takhta kebijaksanaan.’
Di dalam diri Maria, Gereja pun menemukan gambaran diri dan masa depannya, seperti yang terdapat dalam Konsili Vatican II: “Bunda Yesus telah dimuliakan di surga dengan badan dan jiwanya, dan menjadi citra serta awal Gereja yang harus mencapai kepenuhannya di masa yang akan datang” (Lumen Gentium 68).
Ungkapan ini mempertegas fungsi Maria dalam Gereja, yakni fungsi Maria sebagai citra Gereja, awal penyempurnaan Gereja di masa depan dan tanda pengharapan yang pasti bagi Gereja. Melalui hal ini Gereja mengakui sepenuhnya bahwa Yesus Kristus sendiri telah menggenapi janji-Nya yakni, ‘eschaton’ di dalam diri Maria, dan menguatkan pengharapan kita semua.
MARIA SEBAGAI MEMPELAI ALLAH ROH KUDUS
Secara umum kita dapat melihat hubungan Maria dan Roh Kudus yang diungkapkan dalam doa rosario. Pada saat berdoa rosario, kita memulainya dengan mengatakan: ‘Maria sebagai mempelai Allah Roh Kudus.’ Dalam doa rosario itu, dapat kita lihat bahwa Maria mendapat gelar-gelar yang mengungkapkan suatu:
Hubungannya dengan Bapa, Maria adalah putri Allah Bapa.
Hubungannya dengan Allah Putra, Maria adalah bunda-Nya, bukan dalam arti Maria memperanakkan keallahan Putra, melainkan karena ia menjadi ibu dan bunda Yesus.
Hubungannya yang terakhir adalah dengan Roh Kudus, yaitu Maria dengan Roh Kudus sebagai mempelai Allah Roh Kudus.
Sebutan Maria sebagai mempelai Roh Kudus juga menunjuk pada peranan khas Maria dalam peristiwa penjelmaan Allah Putra ketika menjadi manusia. Pewartaan kepada Maria membuka ‘kegenapan waktu’ (Gal. 4:4): Janji-janji terpenuhi, persiapan sudah selesai. Maria dipanggil supaya mengandung Dia, yang di dalam-Nya akan tinggal “seluruh kepenuhan ke-Allah-an secara jasmaniah” (Kol. 2:9) Jawaban atas pertanyaan Maria: “Bagaimana mungkin hal itu akan terjadi karena aku belum bersuami?” (Luk. 1:34) Sebagaimana diwartakan dalam Injil ketika malaikat berkata kepada Maria: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.” (Luk. 1:35) Lalu kita dapat melihat pula di dalam syahadat yang terungkap pada pernyataan iman kita, “Aku percaya akan Yesus Kristus yang dikandung dari Roh Kudus dan dilahirkan oleh Perawan Maria.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa asal usul Yesus Kristus adalah dari Allah sendiri dan bahwa dalam diri Yesus Kristus Allah sendiri hadir dan tinggal bersama dan menyertai kita (bdk. Mat. 1:21,23) Gereja pun mengakui bahwa, ‘Yesus dikandung dalam rahim Perawan Maria oleh kuasa Roh Kudus’ (Sin Lateran 649, DS 503) dan para Bapa Gereja mengatakan bahwa Putera Allah datang ke dalam kodrat manusiawi yang sama dengan manusia.
HUBUNGAN MARIA DENGAN ROH KUDUS
Dalam rangka sejarah keselamatan Allah terhadap manusia, jelas sekali terlihat hubungan Maria dengan Roh Kudus yang telah ada sejak awalnya. Maria telah berhubungan secara intensif dan khas dengan Roh Kudus. Di dalam dia mulailah “karya-karya agung” Allah, yang akan diselesaikan Roh, dalam Kristus dan dalam Gereja, hal ini dapat dilihat:
Pada saat Maria mengandung Yesus dari Roh Kudus. Roh Kudus itu pula yang menuntun Maria untuk pergi mengunjungi Elisabeth yang akhirnya menyampaikan pujian magnifikatnya (lih. Luk. 1:39-56).
Roh Kudus mendampingi Maria dalam proses kelahiran Yesus di Betlehem dan segala persiapan-Nya selama di Nazareth.
Sesudah wafat dan kebangkitan Yesus Kristus, Maria menyertai para murid dalam menantikan kedatangan Roh Kudus (Kis. 1:12-14).
Roh Kudus menyiapkan Maria dengan rahmat-Nya. Sungguh pantas ibu dari Dia yang dalam-Nya “berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allah-an” (Kol. 2:9), adalah “penuh rahmat.” Semata-mata karena rahmat, sebagai makhluk yang paling rendah hati, yang paling sanggup untuk menerima karunia yang tidak terucapkan dari Yang Mahakuasa, yang dikandung tanpa dosa.
Sepanjang Perjanjian Lama, panggilan Maria sudah dipersiapkan oleh perutusan wanita-wanita saleh. Kendati ketidak-taatannya, sejak awal sudah dijanjikan kepada Hawa bahwa ia akan mendapat turunan, yang akan mengalahkan yang jahat, dan akan menjadi ibu semua orang hidup. Berdasarkan janji ini, Sara mendapat seorang putera kendati usianya sudah lanjut. Bertentangan dengan harapan manusiawi, Allah memilih apa yang bodoh dan lemah bagi dunia, supaya menunjukkan bahwa Ia setia pada janji-Nya: Hanna, ibu Samuel, Debora, Rut, Yudit dan Ester demikian pula banyak wanita yang lain lagi. Maria adalah “yang unggul di tengah umat Tuhan yang rendah dan miskin, yang penuh kepercayaan mendambakan serta menerima keselamatan dari-Nya. Akhirnya ketika muncullah ia, Puteri Sion yang mulia, sesudah pemenuhan janji lama dinanti-nantikan genaplah masanya” (Lumen Gentium 55).
Benarlah bahwa malaikat Gabriel menyalami dia –“puteri Sion”- dengan “bergembiralah.” Ketika Maria mengandung Puteranya yang abadi, ia melagukan dalam Roh Kudus madah syukur dari seluruh umat Allah dan dengan demikian juga seluruh gereja, dalam lagu pujiannya kepada Bapa.
Dalam Maria, Roh Kudus melaksanakan keputusan Bapa yang Maharahim. Bersama dan oleh Roh Kudus, Perawan Maria mengandung dan melahirkan Putera Allah. Perutusan Roh Kudus selalu berhubungan dengan perutusan Putera dan diarahkan kepadanya. Roh Kudus diutus supaya menguduskan rahim perawan dan membuahinya secara ilahi; Ia, yang adalah Tuhan dan menghidupkan, menyebabkan Perawan mengandung Putera abadi Bapa, yang menerima kodrat manusiawi dari Maria. Dengan kekuatan Roh Kudus dan dengan kekuatan iman, keperawanannya menjadi subur luar biasa. Karena keperawanannya adalah tanda imannya, “yang tidak tercemar oleh keraguan sedikitpun” dan karena penyerahannya kepada kehendak Allah yang tidak terbagi. Berkat imannya ia dapat menjadi Bunda Penebus: “Maria lebih berbahagia dalam menerima iman kepada Kristus, daripada dalam mengandung daging Kristus” (Agustinus, virg. 3).
Di dalam Maria, Roh Kudus menyatakan Putera Bapa, yang sekarang juga menjadi Putera perawan. Maria adalah semak berduri yang menyala-nyala dari teofani yang difinitif. Dipenuhi oleh Roh Kudus, ia menunjukkan Sabda dalam kehinaan daging dan menyatakan kepada orang-orang miskin dan kepada wakil-wakil bangsa-bangsa kafir yang pertama. Karena itu, madah pujian Maria (dalam bahasa latin “Magnificat,” dalam bahasa Bisantin “Megalinarion”) sekaligus merupakan madah pujian Bunda Allah dan Gereja, madah pujian Puteri Sion dan Umat Allah yang baru. Ia adalah madah syukur atas kepenuhan rahmat yang diberikan dalam tata keselamatan, satu kidung “orang miskin” yang harapannya dipenuhi berlimpah ruah, karena janji-janji yang diberikan kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya dipenuhi.
Akhirnya melalui Maria, Roh Kudus mulai mengumpulkan ke dalam persekutuan dengan Kristus, manusia-manusia bagi siapa ‘cinta Allah yang berbelaskasihan” disediakan. Sehingga kita mengetahui kedudukan Maria dalam misteri Gereja bahwa “Perawan Maria diakui dan dihormati sebagai Bunda Allah dan Bunda Penebus yang sesungguhnya… ‘Ia memang Bunda para anggota (Kristus)… karena dengan cintakasih ia menyumbangkan kerjasamanya, supaya dalam Gereja lahirlah kaum beriman, yang menjadi anggota Kepala itu’ (Agustinus, virg. 6) “Maria, Bunda Kristus, Bunda Gereja” (Wejangan Paus Paulus VI, 21 Nopember 1964). Sepanjang sejarah Gereja, manusia-manusia yang rendah hati selalu merupakan orang-orang pertama yang menerimanya seperti para gembala, para majus, Simeon dan Anna, para pengantin di Kana dan murid-murid pertama.
Pada akhir perutusan Roh, Maria menjadi “wanita,” Hawa baru, “bunda orang-orang hidup,” bunda “Kristus paripurna.” Seperti yang dikatakan oleh St. Ireneus kemudian dikutip dalam Lumen Gentium 56: “Dengan taat Maria menyebabkan keselamatan bagi dirinya maupun bagi segenap umat manusia.” Maka tidak sedikitlah para Bapa zaman kuno, yang dalam pewartaan mereka dengan rela hati menyatakan bersama Ireneus: ‘Ikatan yang disebabkan oleh ketidaktaatan Hawa telah diuraikan karena ketaatan Maria; apa yang diikat oleh Perawan Hawa karena ia tidak percaya, telah dilepaskan oleh Perawan Maria karena imannya.’ Sambil membandingkan dengan Hawa, mereka menyebut Maria ‘bunda mereka yang hidup.’ Sering pula mereka nyatakan: ‘maut melalui Hawa, hidup melalui Maria.’
Injil menyatakan kepada kita bahwa Maria berdoa dan menjadi perantara dalam iman: di Kana Ibu Yesus meminta apa yang dibutuhkan untuk perjamuan perkawinan. Perjamuan ini adalah tanda bagi satu perjamuan lain, yakni perjamuan perkawinan Anak Domba, di mana Kristus, atas permohonan Gereja sebagai mempelai-Nya, menyerahkan tubuh dan darah-Nya. Pada saat Perjanjian Baru, Maria didengarkan pada kaki salib. Maria bersama dengan murid-murid-Nya “sehati bertekun dalam doa” (Kis. 1:14), ketika Roh Kudus pada pagi hari Pentekosta menyatakan awal “zaman terakhir” dengan memunculkan Gereja.
Dengan demikian Maria tidak hanya menyertai saat kelahiran dan masa persiapan Yesus sebelum tampil ke orang banyak saja, tetapi Maria juga menyertai Gereja pada saat kelahiran dan masa persiapannya. Secara keseluruhan berarti bahwa Roh Kudus tidak hanya menghubungkan Maria dengan Yesus Kristus, tetapi juga dengan Gereja. Maria memiliki tempat yang khas dan unggul, baik dari sisi Kristus maupun dari sisi Gereja. “Maria dianugerahi karunia serta martabat yang amat luhur, yakni menjadi Bunda Putra Allah … ia menerima salam sebagai anggota Gereja yang serba unggul dan sangat istimewa, dan sebagai teladan yang mengagumkan dalam iman dan cintakasih” (Lumen Gentium 53).
Maka, sebutan Maria sebagai mempelai Roh Kudus bukan hanya menunjuk hubungan khas Maria dengan Roh Kudus, melainkan juga hubungan Maria dengan Kristus dan Gereja. Dalam perutusan Roh Kudus pada waktu Pentekosta yang menyatakan awal Gereja, Maria bersama Gereja sehati dan bertekun dalam doa menantikan Roh Kudus. Karena itu, patutlah kita bersyukur kepada Allah atas hal-hal agung yang diperbuat-Nya di dalam diri Maria dan Gereja yang telah memberi teladan kepada kita dalam peziarahan ini.
PENUTUP
Kita juga berdoa minta pertolongan Maria, karena jika kita menghormati Maria kita berkata kepada Maria: “Salam Maria Penuh Rahmat” dan ini menjadi doa resmi gereja. “Salam Maria Penuh Rahmat” berasal dari kata-kata malaikat Gabriel, sedangkan perkataan “Terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah rahimmu, Yesus” berasal dari kata-kata Elisabeth yang penuh dengan Roh Kudus ketika ia dikunjungi Maria yang sedang mengandung pribadi Sang Sabda. Gereja menambahkan, “Santa Maria Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa sekarang dan waktu kami mati” yang merupakan kesimpulan Gereja dari Injil sendiri. Melalui doa ini kita mohon agar Maria mendoakan kita kepada putera-Nya. Apabila kita minta doa kepada seorang imam yang hanya orang berdosa, mengapa kita tidak minta doa kepada Maria, satu-satunya yang dikandung tanpa noda dosa. Kemudian kita jumpai dalam litani Santa Maria, dalam seruan “Allah Bapa, Allah Putera, dan Allah Roh Kudus” kita menjawabnya dengan ‘kasihanilah kami’ tetapi pada seruan “Santa Maria” diakhiri dengan ‘doakanlah kami.’ Di sinilah terletak perbedaannya karena Maria bukanlah Sang Pencipta melainkan ciptaan Allah yang terbesar dari antara segala ciptaan.
Karena itu kita bisa mengatakan bahwa Maria merupakan benar-benar master piece dari Allah, karya seni Allah yang paling indah. Jika kita menghormati Maria, kita menghargai Maria seperti yang dikehendaki Allah, dengan demikian kita menghargai dan menghormati Allah sendiri. Sebab dengan menghargai karya-Nya, kita menghargai Dia yang membuat karya itu. Inilah dasar penghormatan kita kepada Bunda Maria, sebagai orang katolik kita tidak menyembah Maria tetapi kita menghormati Maria karena dia adalah makhluk pilihan Allah yang luar biasa. Maria yang rendah hati sehingga ia ditinggikan oleh Allah, Adam karena kesombongannya jatuh ke dalam dosa membawakan kebinasaan. Maria karena kerendahan hatinya membawa kehidupan, inilah dasar kita menghormati Maria Bunda Allah.
Hau nia esperansa katak liu husi artikel ida ne'e bele fo naraoman mai ita Katholiku oan nebe saran ann ita nia orasaun liu husi Inan Virgin Maria atu hato'o ba Nai Jesus Kristu.
Hakmatek Iha Nai Nia Mahon nafatin
http://www.carmelia.net
PERANAN MARIA
Dalam kehidupan orang katolik, Maria memainkan peranan yang sangat penting. Sejak semula Maria telah mendapat tempat yang penting di dalam kehidupan orang-orang Katolik. Maria dihormati karena peranannya di dalam misteri keselamatan yang dinyatakan dalam misteri-misteri hidup Kristus sendiri. Sebagai Bunda Kristus, Maria ikut serta dalam peristiwa-peristiwa hidup Kristus yang membawa keselamatan bagi seluruh umat manusia. Seperti yang diungkapkan dalam Konstitusi Dogmatis ‘De Ecclesia’:
“Dalam mengandung, melahirkan, dan mempersembahkan Kristus kepada Bapa serta dalam menderita bersama dengan Puteranya menjelang wafat-Nya di salib, Santa Perawan Maria ikut serta secara khas sekali dalam karya Penyelamatan dengan ketaatan iman, pengharapan, dan cinta kasih yang bernyala-nyala.”
Karena itu, ekses-ekses yang salah terhadap Maria yang terjadi dewasa ini dapat melunturkan peranan Maria dalam kehidupan kita. Sehingga dirasakan betapa perlunya memiliki pandangan yang benar mengenai peranan Bunda Maria bagi kita semua.
Peranan itu sungguh besar dalam kehidupan kita di dunia ini. Maria adalah bunda Tuhan kita Yesus Kristus, sekaligus juga merupakan bunda Gereja dan seluruh umat beriman. Karena Maria taat kepada Allah maka Maria menjadi puteri Allah yang sangat dikasihi-Nya dan Maria merupakan karya yang terindah dari Allah. Maria adalah gambaran dari manusia yang terpenuhi dalam kebesaran Allah, ia menjadi model bagi setiap manusia yang harus dicapai sampai kepenuhannya, yang harus dicapai seluruh umat manusia karena kuasa Roh Kudus. Maria menyadari semata-mata hanya karena rahmat Roh Kudus saja ia menerima peranannya sebagai bunda dalam ketergantungan yang total kepada Allah. Karena itu dalam nyanyian Maria yang kita kenal dengan Kidung Maria dikatakan “dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.” (Luk. 1:47-49)
Jelaslah, Maria menjadi model dan teladan bagi kita atas segala yang ada di dalam dirinya. Kita akan menjadi besar kalau kita menyadari, mengakui, dan menghayati ketergantungan kita dari Allah dan menyadari peranan Roh Kudus di dalam kehidupan Maria. Di dalam segala situasi Maria selalu ada mendampingi Gereja dalam peziarahan imannya sampai kepada akhir perjalanannya.
Ketika tiba waktunya, Maria, Bunda Allah yang suci dan murni dan tetap perawan, adalah mahkota perutusan Putera dan Roh Kudus. Karena Roh mempersiapkannya, Bapa dalam keputusan keselamatannya-Nya menemukan untuk pertama kalinya tempat tinggal, di mana Putera-Nya dan Roh-Nya dapat tinggal di antara manusia. Dalam arti ini tradisi Gereja mengenakan teks-teks terindah tentang kebijaksanaan pada Maria. Maria dipuji dan ditampilkan di dalam liturgi sebagai ‘takhta kebijaksanaan.’
Di dalam diri Maria, Gereja pun menemukan gambaran diri dan masa depannya, seperti yang terdapat dalam Konsili Vatican II: “Bunda Yesus telah dimuliakan di surga dengan badan dan jiwanya, dan menjadi citra serta awal Gereja yang harus mencapai kepenuhannya di masa yang akan datang” (Lumen Gentium 68).
Ungkapan ini mempertegas fungsi Maria dalam Gereja, yakni fungsi Maria sebagai citra Gereja, awal penyempurnaan Gereja di masa depan dan tanda pengharapan yang pasti bagi Gereja. Melalui hal ini Gereja mengakui sepenuhnya bahwa Yesus Kristus sendiri telah menggenapi janji-Nya yakni, ‘eschaton’ di dalam diri Maria, dan menguatkan pengharapan kita semua.
MARIA SEBAGAI MEMPELAI ALLAH ROH KUDUS
Secara umum kita dapat melihat hubungan Maria dan Roh Kudus yang diungkapkan dalam doa rosario. Pada saat berdoa rosario, kita memulainya dengan mengatakan: ‘Maria sebagai mempelai Allah Roh Kudus.’ Dalam doa rosario itu, dapat kita lihat bahwa Maria mendapat gelar-gelar yang mengungkapkan suatu:
Hubungannya dengan Bapa, Maria adalah putri Allah Bapa.
Hubungannya dengan Allah Putra, Maria adalah bunda-Nya, bukan dalam arti Maria memperanakkan keallahan Putra, melainkan karena ia menjadi ibu dan bunda Yesus.
Hubungannya yang terakhir adalah dengan Roh Kudus, yaitu Maria dengan Roh Kudus sebagai mempelai Allah Roh Kudus.
Sebutan Maria sebagai mempelai Roh Kudus juga menunjuk pada peranan khas Maria dalam peristiwa penjelmaan Allah Putra ketika menjadi manusia. Pewartaan kepada Maria membuka ‘kegenapan waktu’ (Gal. 4:4): Janji-janji terpenuhi, persiapan sudah selesai. Maria dipanggil supaya mengandung Dia, yang di dalam-Nya akan tinggal “seluruh kepenuhan ke-Allah-an secara jasmaniah” (Kol. 2:9) Jawaban atas pertanyaan Maria: “Bagaimana mungkin hal itu akan terjadi karena aku belum bersuami?” (Luk. 1:34) Sebagaimana diwartakan dalam Injil ketika malaikat berkata kepada Maria: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.” (Luk. 1:35) Lalu kita dapat melihat pula di dalam syahadat yang terungkap pada pernyataan iman kita, “Aku percaya akan Yesus Kristus yang dikandung dari Roh Kudus dan dilahirkan oleh Perawan Maria.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa asal usul Yesus Kristus adalah dari Allah sendiri dan bahwa dalam diri Yesus Kristus Allah sendiri hadir dan tinggal bersama dan menyertai kita (bdk. Mat. 1:21,23) Gereja pun mengakui bahwa, ‘Yesus dikandung dalam rahim Perawan Maria oleh kuasa Roh Kudus’ (Sin Lateran 649, DS 503) dan para Bapa Gereja mengatakan bahwa Putera Allah datang ke dalam kodrat manusiawi yang sama dengan manusia.
HUBUNGAN MARIA DENGAN ROH KUDUS
Dalam rangka sejarah keselamatan Allah terhadap manusia, jelas sekali terlihat hubungan Maria dengan Roh Kudus yang telah ada sejak awalnya. Maria telah berhubungan secara intensif dan khas dengan Roh Kudus. Di dalam dia mulailah “karya-karya agung” Allah, yang akan diselesaikan Roh, dalam Kristus dan dalam Gereja, hal ini dapat dilihat:
Pada saat Maria mengandung Yesus dari Roh Kudus. Roh Kudus itu pula yang menuntun Maria untuk pergi mengunjungi Elisabeth yang akhirnya menyampaikan pujian magnifikatnya (lih. Luk. 1:39-56).
Roh Kudus mendampingi Maria dalam proses kelahiran Yesus di Betlehem dan segala persiapan-Nya selama di Nazareth.
Sesudah wafat dan kebangkitan Yesus Kristus, Maria menyertai para murid dalam menantikan kedatangan Roh Kudus (Kis. 1:12-14).
Roh Kudus menyiapkan Maria dengan rahmat-Nya. Sungguh pantas ibu dari Dia yang dalam-Nya “berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allah-an” (Kol. 2:9), adalah “penuh rahmat.” Semata-mata karena rahmat, sebagai makhluk yang paling rendah hati, yang paling sanggup untuk menerima karunia yang tidak terucapkan dari Yang Mahakuasa, yang dikandung tanpa dosa.
Sepanjang Perjanjian Lama, panggilan Maria sudah dipersiapkan oleh perutusan wanita-wanita saleh. Kendati ketidak-taatannya, sejak awal sudah dijanjikan kepada Hawa bahwa ia akan mendapat turunan, yang akan mengalahkan yang jahat, dan akan menjadi ibu semua orang hidup. Berdasarkan janji ini, Sara mendapat seorang putera kendati usianya sudah lanjut. Bertentangan dengan harapan manusiawi, Allah memilih apa yang bodoh dan lemah bagi dunia, supaya menunjukkan bahwa Ia setia pada janji-Nya: Hanna, ibu Samuel, Debora, Rut, Yudit dan Ester demikian pula banyak wanita yang lain lagi. Maria adalah “yang unggul di tengah umat Tuhan yang rendah dan miskin, yang penuh kepercayaan mendambakan serta menerima keselamatan dari-Nya. Akhirnya ketika muncullah ia, Puteri Sion yang mulia, sesudah pemenuhan janji lama dinanti-nantikan genaplah masanya” (Lumen Gentium 55).
Benarlah bahwa malaikat Gabriel menyalami dia –“puteri Sion”- dengan “bergembiralah.” Ketika Maria mengandung Puteranya yang abadi, ia melagukan dalam Roh Kudus madah syukur dari seluruh umat Allah dan dengan demikian juga seluruh gereja, dalam lagu pujiannya kepada Bapa.
Dalam Maria, Roh Kudus melaksanakan keputusan Bapa yang Maharahim. Bersama dan oleh Roh Kudus, Perawan Maria mengandung dan melahirkan Putera Allah. Perutusan Roh Kudus selalu berhubungan dengan perutusan Putera dan diarahkan kepadanya. Roh Kudus diutus supaya menguduskan rahim perawan dan membuahinya secara ilahi; Ia, yang adalah Tuhan dan menghidupkan, menyebabkan Perawan mengandung Putera abadi Bapa, yang menerima kodrat manusiawi dari Maria. Dengan kekuatan Roh Kudus dan dengan kekuatan iman, keperawanannya menjadi subur luar biasa. Karena keperawanannya adalah tanda imannya, “yang tidak tercemar oleh keraguan sedikitpun” dan karena penyerahannya kepada kehendak Allah yang tidak terbagi. Berkat imannya ia dapat menjadi Bunda Penebus: “Maria lebih berbahagia dalam menerima iman kepada Kristus, daripada dalam mengandung daging Kristus” (Agustinus, virg. 3).
Di dalam Maria, Roh Kudus menyatakan Putera Bapa, yang sekarang juga menjadi Putera perawan. Maria adalah semak berduri yang menyala-nyala dari teofani yang difinitif. Dipenuhi oleh Roh Kudus, ia menunjukkan Sabda dalam kehinaan daging dan menyatakan kepada orang-orang miskin dan kepada wakil-wakil bangsa-bangsa kafir yang pertama. Karena itu, madah pujian Maria (dalam bahasa latin “Magnificat,” dalam bahasa Bisantin “Megalinarion”) sekaligus merupakan madah pujian Bunda Allah dan Gereja, madah pujian Puteri Sion dan Umat Allah yang baru. Ia adalah madah syukur atas kepenuhan rahmat yang diberikan dalam tata keselamatan, satu kidung “orang miskin” yang harapannya dipenuhi berlimpah ruah, karena janji-janji yang diberikan kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya dipenuhi.
Akhirnya melalui Maria, Roh Kudus mulai mengumpulkan ke dalam persekutuan dengan Kristus, manusia-manusia bagi siapa ‘cinta Allah yang berbelaskasihan” disediakan. Sehingga kita mengetahui kedudukan Maria dalam misteri Gereja bahwa “Perawan Maria diakui dan dihormati sebagai Bunda Allah dan Bunda Penebus yang sesungguhnya… ‘Ia memang Bunda para anggota (Kristus)… karena dengan cintakasih ia menyumbangkan kerjasamanya, supaya dalam Gereja lahirlah kaum beriman, yang menjadi anggota Kepala itu’ (Agustinus, virg. 6) “Maria, Bunda Kristus, Bunda Gereja” (Wejangan Paus Paulus VI, 21 Nopember 1964). Sepanjang sejarah Gereja, manusia-manusia yang rendah hati selalu merupakan orang-orang pertama yang menerimanya seperti para gembala, para majus, Simeon dan Anna, para pengantin di Kana dan murid-murid pertama.
Pada akhir perutusan Roh, Maria menjadi “wanita,” Hawa baru, “bunda orang-orang hidup,” bunda “Kristus paripurna.” Seperti yang dikatakan oleh St. Ireneus kemudian dikutip dalam Lumen Gentium 56: “Dengan taat Maria menyebabkan keselamatan bagi dirinya maupun bagi segenap umat manusia.” Maka tidak sedikitlah para Bapa zaman kuno, yang dalam pewartaan mereka dengan rela hati menyatakan bersama Ireneus: ‘Ikatan yang disebabkan oleh ketidaktaatan Hawa telah diuraikan karena ketaatan Maria; apa yang diikat oleh Perawan Hawa karena ia tidak percaya, telah dilepaskan oleh Perawan Maria karena imannya.’ Sambil membandingkan dengan Hawa, mereka menyebut Maria ‘bunda mereka yang hidup.’ Sering pula mereka nyatakan: ‘maut melalui Hawa, hidup melalui Maria.’
Injil menyatakan kepada kita bahwa Maria berdoa dan menjadi perantara dalam iman: di Kana Ibu Yesus meminta apa yang dibutuhkan untuk perjamuan perkawinan. Perjamuan ini adalah tanda bagi satu perjamuan lain, yakni perjamuan perkawinan Anak Domba, di mana Kristus, atas permohonan Gereja sebagai mempelai-Nya, menyerahkan tubuh dan darah-Nya. Pada saat Perjanjian Baru, Maria didengarkan pada kaki salib. Maria bersama dengan murid-murid-Nya “sehati bertekun dalam doa” (Kis. 1:14), ketika Roh Kudus pada pagi hari Pentekosta menyatakan awal “zaman terakhir” dengan memunculkan Gereja.
Dengan demikian Maria tidak hanya menyertai saat kelahiran dan masa persiapan Yesus sebelum tampil ke orang banyak saja, tetapi Maria juga menyertai Gereja pada saat kelahiran dan masa persiapannya. Secara keseluruhan berarti bahwa Roh Kudus tidak hanya menghubungkan Maria dengan Yesus Kristus, tetapi juga dengan Gereja. Maria memiliki tempat yang khas dan unggul, baik dari sisi Kristus maupun dari sisi Gereja. “Maria dianugerahi karunia serta martabat yang amat luhur, yakni menjadi Bunda Putra Allah … ia menerima salam sebagai anggota Gereja yang serba unggul dan sangat istimewa, dan sebagai teladan yang mengagumkan dalam iman dan cintakasih” (Lumen Gentium 53).
Maka, sebutan Maria sebagai mempelai Roh Kudus bukan hanya menunjuk hubungan khas Maria dengan Roh Kudus, melainkan juga hubungan Maria dengan Kristus dan Gereja. Dalam perutusan Roh Kudus pada waktu Pentekosta yang menyatakan awal Gereja, Maria bersama Gereja sehati dan bertekun dalam doa menantikan Roh Kudus. Karena itu, patutlah kita bersyukur kepada Allah atas hal-hal agung yang diperbuat-Nya di dalam diri Maria dan Gereja yang telah memberi teladan kepada kita dalam peziarahan ini.
PENUTUP
Kita juga berdoa minta pertolongan Maria, karena jika kita menghormati Maria kita berkata kepada Maria: “Salam Maria Penuh Rahmat” dan ini menjadi doa resmi gereja. “Salam Maria Penuh Rahmat” berasal dari kata-kata malaikat Gabriel, sedangkan perkataan “Terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah rahimmu, Yesus” berasal dari kata-kata Elisabeth yang penuh dengan Roh Kudus ketika ia dikunjungi Maria yang sedang mengandung pribadi Sang Sabda. Gereja menambahkan, “Santa Maria Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa sekarang dan waktu kami mati” yang merupakan kesimpulan Gereja dari Injil sendiri. Melalui doa ini kita mohon agar Maria mendoakan kita kepada putera-Nya. Apabila kita minta doa kepada seorang imam yang hanya orang berdosa, mengapa kita tidak minta doa kepada Maria, satu-satunya yang dikandung tanpa noda dosa. Kemudian kita jumpai dalam litani Santa Maria, dalam seruan “Allah Bapa, Allah Putera, dan Allah Roh Kudus” kita menjawabnya dengan ‘kasihanilah kami’ tetapi pada seruan “Santa Maria” diakhiri dengan ‘doakanlah kami.’ Di sinilah terletak perbedaannya karena Maria bukanlah Sang Pencipta melainkan ciptaan Allah yang terbesar dari antara segala ciptaan.
Karena itu kita bisa mengatakan bahwa Maria merupakan benar-benar master piece dari Allah, karya seni Allah yang paling indah. Jika kita menghormati Maria, kita menghargai Maria seperti yang dikehendaki Allah, dengan demikian kita menghargai dan menghormati Allah sendiri. Sebab dengan menghargai karya-Nya, kita menghargai Dia yang membuat karya itu. Inilah dasar penghormatan kita kepada Bunda Maria, sebagai orang katolik kita tidak menyembah Maria tetapi kita menghormati Maria karena dia adalah makhluk pilihan Allah yang luar biasa. Maria yang rendah hati sehingga ia ditinggikan oleh Allah, Adam karena kesombongannya jatuh ke dalam dosa membawakan kebinasaan. Maria karena kerendahan hatinya membawa kehidupan, inilah dasar kita menghormati Maria Bunda Allah.
Hau nia esperansa katak liu husi artikel ida ne'e bele fo naraoman mai ita Katholiku oan nebe saran ann ita nia orasaun liu husi Inan Virgin Maria atu hato'o ba Nai Jesus Kristu.
Hakmatek Iha Nai Nia Mahon nafatin
Selasa, 28 Juli 2009
Frakeja Humanau Ita Ema
Laiha ema ida maka hatene antes katak nia atu moris iha mundu iha loron ida, maibe laiha ema ida maka bele hases ann husi vida ikus iha moris maka mate iha loron ida. Biblia fo naroman ba ema oinsa hala’o moris loron-loron nian no oinsa atu labele monu ba hahalok at no iha promesa barak wainhira humanu ida halo Tuir Nai Kriasaun nian hakarak hodi nune ema ida bele fila hamutuk moris eterna ho nai Mak Soi.
Laiha ema ida maka exelentu iha ninian vida moral nian, Ita sarani Katholik so fiar deit katak so Nai Jesus maka maka Aman Maromak Oan nebe moris nudar ema iha mundu mesak maka privadu ida nebe maka exelentu iha ninian vida to’o mate iha Krus hodi nune bele salva ema nia sala. Nudar ema Jesus maka ita nia espelu nebe ita atu halo tuir maske ita sala maibe tan Nai Hadomi ita nia sempre loke dalan ba ita atu hakribi ita salan wainhira ita monu no halo sala. Laiha domin ida ke boot Hanesan Nai Maromak hatudu mai ita ne’e maske sala ita sempre hetan perdua husi Nai. Ejemplu ne’e diak no sei nakonu ho domin no hakmatek wainhira ema ida-ida fo perdua ba malu hanesan Maromak Nian Dutrina.
Ita ema tengki refleta fali lalaok moris loron-loron nian tamba ita ema moris iha alternativa rua tuir Dalan Maromak nian ka tuir dalan diabu nebe sai inemigu Nai mak murak nian. Dala barak ita gosta liu hare ema seluk moris att duke ita, dala barak ita gosta liu hirus no odiu ema seluk duke fo liman ba malu hodi halakon nervosu ba malu, dala barak ita hases ann husi ema nebe husu ita nia ajuda duke ita rasik maka hakarak fo ajuda, i dala barak ita gosta estraga ema seluk ho jetu oi-oin duke fo suporta ou estuda oinsa ita bele hetan suksesu henesan ema seluk.
Atu hetan dame no hakmatek iha moris laiha dalan seluk se lae husi dalan hakbesik ita ann ba Nai mak Soi nebe Nian Domin boot tebes ba ita, keta haluha reja halo agredesementu no hasae gloria ba Maromak ho ida ne maka ita nia neon ho laran bele dame no hakmatek. Atu muda hanoin ema idak –idak nian loas fasil maibe so fiar ba Nai maromak liu husi Nai Jesus Kristu ita sei nakfila husi sala boot sai fali bebe nurak ida nebe mos no gosta atu Nai Maromak mai besik ita no kous ita signifika katak sai diak no entrega an tomak ba nai ho ida ne’e ita nia vida sei sai diak liu duke antes ita hakbesik an.
Mai ita hotu-hotu fila ba Nai Maromak no agradese ba Nai Maromak Liu Husi Jesus Kristu nebe saran An ba Mate tan ita. loke ita nian fuan laran ba nai Jesus atu Nia uja ita tuir maromak nia hakarak.
hau fo agradese ba Nai tan hodomi ona hau no hakarakan uja hanesan ho ema seluk. Amin.
Laiha ema ida maka exelentu iha ninian vida moral nian, Ita sarani Katholik so fiar deit katak so Nai Jesus maka maka Aman Maromak Oan nebe moris nudar ema iha mundu mesak maka privadu ida nebe maka exelentu iha ninian vida to’o mate iha Krus hodi nune bele salva ema nia sala. Nudar ema Jesus maka ita nia espelu nebe ita atu halo tuir maske ita sala maibe tan Nai Hadomi ita nia sempre loke dalan ba ita atu hakribi ita salan wainhira ita monu no halo sala. Laiha domin ida ke boot Hanesan Nai Maromak hatudu mai ita ne’e maske sala ita sempre hetan perdua husi Nai. Ejemplu ne’e diak no sei nakonu ho domin no hakmatek wainhira ema ida-ida fo perdua ba malu hanesan Maromak Nian Dutrina.
Ita ema tengki refleta fali lalaok moris loron-loron nian tamba ita ema moris iha alternativa rua tuir Dalan Maromak nian ka tuir dalan diabu nebe sai inemigu Nai mak murak nian. Dala barak ita gosta liu hare ema seluk moris att duke ita, dala barak ita gosta liu hirus no odiu ema seluk duke fo liman ba malu hodi halakon nervosu ba malu, dala barak ita hases ann husi ema nebe husu ita nia ajuda duke ita rasik maka hakarak fo ajuda, i dala barak ita gosta estraga ema seluk ho jetu oi-oin duke fo suporta ou estuda oinsa ita bele hetan suksesu henesan ema seluk.
Atu hetan dame no hakmatek iha moris laiha dalan seluk se lae husi dalan hakbesik ita ann ba Nai mak Soi nebe Nian Domin boot tebes ba ita, keta haluha reja halo agredesementu no hasae gloria ba Maromak ho ida ne maka ita nia neon ho laran bele dame no hakmatek. Atu muda hanoin ema idak –idak nian loas fasil maibe so fiar ba Nai maromak liu husi Nai Jesus Kristu ita sei nakfila husi sala boot sai fali bebe nurak ida nebe mos no gosta atu Nai Maromak mai besik ita no kous ita signifika katak sai diak no entrega an tomak ba nai ho ida ne’e ita nia vida sei sai diak liu duke antes ita hakbesik an.
Mai ita hotu-hotu fila ba Nai Maromak no agradese ba Nai Maromak Liu Husi Jesus Kristu nebe saran An ba Mate tan ita. loke ita nian fuan laran ba nai Jesus atu Nia uja ita tuir maromak nia hakarak.
hau fo agradese ba Nai tan hodomi ona hau no hakarakan uja hanesan ho ema seluk. Amin.
Minggu, 21 Juni 2009
Melawan Hati Nurani Yang Keliru
Setiap manusia mempunyai karakter yang unik, ada yang pendiam ada yang pemarah ada yang penurut adapula yang yang selalu memberontak dan masih begitu banyak karaktek yang dimiliki oleh setiap anak manusia. Sering kita mendengar bahwa dalam bertindak manusia harus mendengarkan bisikan hati nuraninya, … memang itu ada benarnya tetapi sejauh mana sesorang mengkaji kebenaran hati nuraninya?
sebuah tanda Tanya yang harus saya berikan disana supaya setiap orang yang membaca tulisan ini mencari jawabannya sendiri-sendiri.
Renungkanlah sejenak bisikan hati nurani kita, apakah pesan yang didapat merupakan ajakan atau hasutan? menurut pendapat saya dua perbedaan itu harus kita telesuri lebih dalam agar kita mampu menemukan jawaban dari ajakan yang benar, Jika Hati nurani kita suci kita berkeyakinan bisikan atau pesan yang kita dapat berupa ajakan untuk berbuat baik sebaliknya jika pesan yang kita peroleh dari dalam hati kita berupa hasutan inilah yang perlu setiap anak manusia perlu melawannya. sebuah pertanyaan baru akan muncul lagi gimana caranya supaya saya mampu mendeteksi bahwa bisikan hati nurani saya adalah berupa ajakan bukan hasutan!...........well, jawaban untuk itu adalah sejauhmana setiap orang berprilaku terhadap sesamanya. Jika orang yang hidupnya penuh dengan cinta terhadap sesamanya berarti hatinya baik dan ada ketulusan, jika dalam kehidupan ini kita sering iri, sombong, dengki, menjatuhkan orang lain, dendam terhadap sesama, berarti hati kita belum bersih untuk mendapat ajakan melainkan pesan yang kita peroleh adalah hasutan untuk mendeskreditkan sesama kita yang hasilnya adalah upah dosa.
Memang sulit menundukan keegoan kita,..tapi bila kita tidak mau menelusuri dan melawannya itu sama artinya kita setuju dengan hal-hal buruk yang menempel pada pribadi kita masing-masing…saudaraku yang Percaya dalam Keselamatan yang Dibawah Tuhan Yesus Kristus, Marilah kita semua merenung dan melawan sifat buruk yang terbenam dalam hati kita, Cobalah kita mengeluarkannya dari hati kita agar apa yang kita pikir dan akan perbuat adalah hal yang berupa ajakan damai yang berkesudahan dengan kasih dan cinta. Memang sulit untuk melawan keegoan kita yang bersumber dari hati nurani yang salah tetapi akan sangat sukar pula saat kita akan mempertahankannya bila kita mampu menemukan kesejatian hati nurani yang tulus ini.
Saat saya menuliskan ini, sayapun sedang dalam tahap mencoba melawan keegoan saya yang bersumber dari hati nurani yang salah,…tapi satu kata hati saya semua yang bersumber dari ajakan untuk berbuat baik adalah datang dari hati nurani yang baik karena itu saya sedang menggali lebih dalam hati nurani saya agar saya berdiri pada posisi yang benar.
Semoga Tulisan inspirasi saya ini akan mengilhami para pembaca yang lain. Apapun itu segala sesuatu yang baik berasal dari Kasih dan Ketulusan Cinta yang kita berikan kepada orang lain adalah tindakan nyata bahwa Hati Nurani kita diisi oleh hal yang positif dan berguna bagi sesama kita.
Langganan:
Komentar (Atom)