Sabtu, 31 Maret 2012

Memaknai Cobaan


Tulisan ini dibuat berbarengan dengan keadaan penulis yang sedang tergoncang akibat sulit menerima kenyataan bahwa Ayah yang telah memberiku hidup dan mengenalkan kehidupan di dunia telah di panggil pulang oleh Bapa seluruh Kehidupan ini yakni Allah yang Penuh Kasih.

Kisah ini dibuat untuk mengenang berpulangnya ayahanda ke Rumah Bapa selama empat bulan. Harus diakui  begitu berat dan terasa cepat beliau pergi meninggalkan kami yang masih mengharapkannya. Tapi bagaimanapun tersadar dari misteri kehidupan ini saya mencoba berdiri dan membangun kembali pikiran positif bahwa walau bagaimanapun kematian adalah jalan terbaik menuju Bapa untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik sebab Kasih Allah melalui Putra-Nya Tuhan Yesus Kristus maka manusia kembali memperoleh kemuliaan untuk menjumpai Penciptanya, Sebab Tuhan Yesus Adalah Kebenaran Jalan dan Hiddup. (Akulah Jalan, Kebenaran Dan Hidup, Yoh : 14 :16 )


Seperti tercatat semenjak Dunia di ciptakan manusia telah di hadapkan pilihan bebas untuk memilih jalan kehidupan yang di ingininya. Tentunya, ini sebagai cobaan sebesar apa manusia mencintai Tuhan Penciptnya. Jika kita memilih kepada kedengkian, hawa-nafsu, kebohongan, kepura-puraan, kemewahan, iri hati, tidak peduli dengan sesama, rakus dan sifat yang berlwanan dengan Kasih Setia Allah sudah dipastikan bahwa orang yang berprilaku demikian adalah orang yang dengan kebebasannya memilih bersekutu dengan iblis atau setan dan menjauh dari Allah.

Seandainya Manusia dalam kehidupannya menerapakan Perintah Allah yang di kenal dengan Sepuluh Perintah Allah maka saya percaya dengan sungguh-sungguh bahwa dalam kehidupan di dunia ini kita hanya akan menjumpai kedamaian, ketentraman, keiklasan, dan yang terutama Kesetiaan manusia terhadap Allah Pencipta-Nya. Hanya untuk megingatkan kembali Perintah sepuluh Perintah Allah seperti dalam Kitab Keluaran ( 20 : 1 – 17 )

1. Jangan menyembah berhala, berbaktilah kepadaKu saja, dan cintailah Aku lebih dari segala Sesuatu
2. Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan tidak hormat
3. Kuduskanlah hari Tuhan
4. Hormatilah ibu-bapamu
5. Jangan membunuh
6. Jangan berzinah
7. Jangan mencuri
8. Jangan bersaksi dusta tentang sesamamu
9. Jangan mengingini istri sesamamu
10. Jangan mengingini milik sesamu secara tidak adil

Merenung Perintah Allah ini tentunya berpikir, kenapa hanya sepuluh perintah saja tapi  manusia sulit menerapkap dalam keseharian kita? Haruslah di sadari bahwa para malaikait yang berseberangan dengan Tuhan tidak akan diam membiarkan manusia mematuhi Perintah Allah ini sebab iblis dengan kesombonganya ingin memamerkan kepada Tuhan Allah bahwa dialah yang lebih mudah di ikuti manusia bukan Tuhan sebagai Penciptanya.

Iblis yakni setan merupakan para malaikat yang dengan kehendak bebasnya ingin menunjukkan kepada Allah bahwa mereka juga mampu memerintah seperti Allah Pencipta manusia oleh sebab itu manusia haruslah sadar bahwa selama kita masih hidup pencobaan demi pencobaan akan datang menghampiri kita, sebagai bentuk ujian sebesar apa iman kita terhadap Allah Pencipta kita. Jika manusia lemah maka ia akan bersekutu dengan setan dan menjauh dari Penciptanya sebaliknya jika manusia beriman dan kuat melawan semua godaan dan hasutan iblis maka ia akan menunjukkan kesetiaannya kepada PenciptaNya.

Konsekuensi pilihan bebas manusia ini berakibat pada kehidupan setelah kematian. Tentunya para Kristiani sudah tahu bahwa upah dosa adalah maut dan upah kestiaan adalah kehidupan tentram di Surga, ( Roma 6:23 ).

Menyadari renungan ini,- saya mengajak sesamaku yang percaya akan Allah sebagai pencipta alam semesta dan seisinya dan juga yang mengakui PutraNya Tuhan Yesus Kristus untuk kembali membuka Alkitab Inji dan Katekismus untuk tidak hanya membaca Sepuluh Perintah Allah tetapi marilah kita mencoba menerapkannya dalam keseharian kita.

Perlu saya utarakan maksud tulisan ini bukan berarti perintah-perintah lain seperti lima perintah Gereja diabaikan melainkan, dengan menambah lima perintah Gereja maka saya meyakini iman seseorang makin tumbuh dan kuat terhadap goncangan yang datang dari si jahat iblis untuk mencelakai jiwa kita. Untuk menginggatkan kita semua berikut saya paparkan juga lima perintah Gereja
1 Rayakan hari raya yang disamakan dengan hari Minggu.
2 Ikutilah perayaan Ekaristi pada hari Minggu dan pada hari raya yang diwajibkan; dan janganlah    melakukan pekerjaan yang dilarang pada hari itu.
3 Berrpuasa dan berpantanglah pada hari yang ditentukan
4 Mengaku dosalah sekurang-kurangnya sekali setahun
5 Menyambut Tubuh Tuhan pada Masa Paskah

Sebagai manusia biasa dan percaya keselamatan jiwa melalui Penebusan Tuhan Yesus Kristus maka saya meyakini jalan keselamatan sudah tersedia bagi kita semua. Yang dibutuhkan dari kita adalah usaha untuk melawan cobaan untuk membuktikan kesetiaan kita terhadap Allah Pencipta kita.

Saya berharap melalui doa semoga jiwa ayahanda tercinta dosanya di ampuni dan di terima disisi Bapak Allah Putra dan Roh Kudus sebab melalui almarhum ayahanda Alcino Pires jiwa dan raga saya di perkenalkan kepada TRITUNGGAL ALLLAH YANG MAHA KASIH.

Ayah Alcino Pires (Kiri ) dan Saya Timoteo G Pires
Tulisan ini Kupersembahkan Khusus Untuk Beliau.
Demikian juga saya berdoa dan berharap agar Tuhan mengamapuni setiap jiwa dosa manusia yang selama dalam hidupnya melukai hatiNya dan melanggar perintah-perintahnyanya. Sebab dengan keyakinan utuh dan percaya saja dalam Nama TUHAN YESUS KRISTUS maka semua jiwa Terselamatkan.

Bagi kita yang masih menjalani hidup ini ingatlah Kasih Alllah sungguh besar dan mulia Ia rela datang kedunia demi memenangkan jiwa kita. Oleh sebab itu marilah kita memaknai cobaan sebagai ujian kesetiaan kita dan demi pemurnian jiwa kita.

DATANGLAH ROH KUDUS ARAHKANLAH LANGKAH KAMI MEMUJI ALLAH TUHAN DI SURGA DEMI KEMULIAN DAN KETENTRAMAN JIWA YANG KEKAL AMIN

Selasa, 05 Juli 2011

Doa Yang Diajarkan Yesus Kepada Kita


Oleh: Romo Victor Hoagland, C.P.

Berdasarkan Katekismus Gereja Katolik 2759 - 2865




“Tuhan, ajarlah kami berdoa,” kata murid-murid kepada Yesus (Luk 11:1). Ia menjawab dengan mengajarkan kepada mereka doa yang kita sebut sebagai Doa Bapa Kami atau Doa Tuhan.

Doa Bapa kami adalah doa dasar umat Kristiani. Sebagai doa dasar, setiap umat Kristiani menghafalnya di luar kepala. Doa Bapa Kami didaraskan di setiap kesempatan dalam kehidupan gereja: dalam liturgi dan sakramen-sakramen gereja, dalam doa bersama maupun doa pribadi. Doa Bapa Kami adalah doa yang amat berharga bagi umat Kristiani.


Meskipun kita menghafalkannya sebagai suatu rumusan, Doa Bapa Kami tidak seharusnya diucapkan secara mekanis atau tanpa perasaan. Tujuan Doa Bapa Kami adalah untuk membangkitkan serta menyemangati iman kita. Melalui Doa Bapa Kami, Yesus mengajak kita untuk datang kepada Tuhan sebagai Bapa. Sungguh, Doa Bapa Kami merupakan ringkasan seluruh Injil.


Bapa kami yang ada di surga,
dimuliakanlah nama-Mu
.


Ketika Musa mendekati Tuhan di Gunung Sinai, ia mendengar suara yang berkata, “Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.” Suatu jurang perbedaan yang tak terhingga memisahkan kita dari Tuhan yang Mahakuasa.


Dalam Doa Bapa Kami, Yesus mengundang kita untuk mendekati Tuhan, yang jauh di atas pengertian manusia, yang tinggal dalam misteri, yang kudus dan mulia. Kita boleh memanggil Tuhan sebagai “Bapa kami”.


Menyebut Tuhan sebagai “Bapa” bukan berarti bahwa Tuhan itu pria. Tuhan jauh di atas kategori pria atau wanita. Tidak akan ada satu pun gambaran kita mengenai Tuhan yang sesuai. Tuhan, “yang ada di Surga”, yang nama-Nya adalah kudus, tidak mungkin dapat dipahami sepenuhnya oleh manusia.


Dengan memanggil Tuhan sebagai “Bapa” kita lebih tepat menggambarkan diri kita dan hubungan kita dengan Tuhan. Yesus mengajarkan bahwa kita mempunyai hubungan istimewa sebagai anak; Tuhan memandang kita sebagai anak-anak-Nya. Dan kita berani mendekat kepada Tuhan dengan penuh kepercayaan serta kemesraan seperti layaknya seorang anak datang kepada orangtua yang mengasihinya. Terlebih lagi, kita datang kepada Tuhan melalui Putera Tunggal-Nya, Yesus Kristus, yang mempersatukan kita dengan Diri-Nya Sendiri.


Datanglah kerajaan-Mu.
Jadilah kehendak-Mu
di atas bumi seperti di dalam surga.


Kerajaan Allah. Yesus kerap kali mengatakan bahwa kuasa Allah akan datang dan memperbaharui seluruh ciptaan. Tuhan bagaikan seorang Raja yang Mahakuasa yang akan memerintah bumi sesuai dengan rencana yang telah dinyatakan sejak dunia dijadikan. Kerajaan Allah akan ditandai dengan damai dan keadilan. Yang baik akan memperoleh ganjaran dan yang jahat akan memperoleh hukuman. Kerajaan Allah, menurut Yesus, tidaklah jauh, tetapi sudah berada di tengah-tengah kita, meskipun masih terselubung.


Dalam doa Bapa Kami, kita berdoa agar Kerajaan Allah segera datang, agar kehendak Allah, yang demi kebaikan kita, terjadi di bumi seperti di dalam surga.


Berilah kami rejeki pada hari ini,


Kita adalah anak-anak Allah. Adakah yang lebih sederhana dan polos selain dari permohonan ini di mana kita berdoa memohon rejeki, kata yang menggambarkan segala rahmat rohani dan jasmani yang kita butuhkan agar dapat hidup? Dengan kepercayaan seorang anak kita mengatakan: “Berilah kami hari ini apa yang kami butuhkan.”


Dan ampunilah kesalahan kami,
seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami.


Permohonan dari Doa Bapa Kami ini mengandung syarat. Bukan saja kita memohon pengampunan dari Tuhan atas segala kesalahan kita, tetapi kita menghubungkan pengampunan yang kita terima dari Tuhan itu dengan pengampunan yang kita berikan kepada orang lain. Mengampuni kesalahan orang lain bukanlah selalu hal yang mudah untuk dilakukan. Kita membutuhkan rahmat Tuhan untuk melakukannya. Namun demikian pengampunan harus diberikan, jika tidak, kita sendiri tidak dapat menerima belas kasihan Tuhan.


Dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan,
tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin.


Hidup itu tidaklah mudah. Hidup adalah berjuang setiap hari. Pencobaan seperti sakit dan kegagalan dapat mematahkan semangat kita. Nilai-nilai serta harapan-harapan palsu dapat membujuk kita, dan pada akhirnya menghancurkan jiwa kita. Oleh karenanya, kita mohon kepada Tuhan untuk menjaga agar kita tidak jatuh dalam pencobaan, untuk membimbing kita agar melakukan yang benar, untuk membebaskan kita dari yang jahat, yang terus menerus menunggu kesempatan untuk menjebak kita.


Doa Bapa Kami merupakan ringkasan ajaran Yesus. Doa yang juga menawarkan rahmat Yesus sendiri: pengantaraan-Nya kepada Tuhan, kepercayaan-Nya yang total kepada Bapa-Nya, serta kekuatan-Nya untuk menjalani hidup dengan berani tanpa peduli apa pun resikonya. Ketika kita mendaraskan doa-Nya, semangat Yesus sendiri menjadi semangat kita.


Sumber : The Prayer Jesus Taught Us " by fr. Victor Hoagland, C.P. : Copyright 1991-1999-The Pessionist missionaries; www.cptryon.org/prayer

Diterjemahkan Oleh : YESAYA : www.indocell.net/yesaya atas ijin Fr. Victor Hoagland,C P.

Jumat, 04 Februari 2011

Terima Kasih Ayah


Sebuah kisah  nyata yang mendasari segala bentuk tindakan dalam mengisi kehidupan ini. Jika manusia bisa kembali ke masa lalu, aku ingin merubah kesalahan masa lalu menjadi benar dan kehidupan hari ini pasti tanpa banyak cela.

Cerita yang di uraikan dalam tulisan ini adalah kisah nyata pribadi. Bagi yang ingin mengcopi atau mengedarkannya tidak di kenaakan sanksi. masukan dan kritik pembaca sangat membantu pada penulisan kisah kisah berikutnya.

Saya adalah anak ke dua dari tujuh bersaudara dan dua saudara angkat jadi dalam keluarga kami ada 9 anak yang di rawat oleh orang tua kami dengan penuh tanggung jawab sehingga kami semua dapat menikmati hidup.

Kehidupan kami adalah adalah seperti umumnya orang orang disekitar kami yang mayoritas hidup dalam kemiskinan walaupun sebenarnya ayah kami adalah seorang pegawai negeri. tetapi awal karier ayah kami di mulai dari pegawai golongan 1 hingga tragedi pemisahan negara Timor leste dari indonesia ayah saya berpangkat golongan 2C. Sebuah golongan pangkat rendah yang tentunya hanya untuk makanpun kadang harus ditutupi dengan meminjam ke tetangga atau ke kios kios yang mau memberikan pinjaman. Pada satu masa kami sekeluarga kekurangan beras. yang kami punya hanyalah jagung dan ubi singkong sehingga, untuk memperoleh beras terpaksa ayah kami dengan segala pengorbannya mencari orang yang mau menukarkan beras yang mereka miliki dengan jagung dan singkong kami. Akhirnya kami mendapatkan tukaran beras itu sehingga kami bisa sedikit mencicipi nasi, untuk mendapat beras  dalam trasaksi barter bahan makanan itu sungguh tidak menguntungkan pihak kami. sebab, beras sekaleng ukuran kaleng susu SGM ditukar dengan jagung dan ubi sebanyak seember. kejadian itu sungguh membekas di benak saya meski saat itu saya masih kanak-kanak.


Saya ingat betul waktu saya masih kecil ayah  terkadang harus piket malam di kantor bersama koleganya, tentunya itu dilakukannya dengan tulus dengan harapan kelak anak-anaknya bisa sukses.
Masih segar pula di ingatanku dimana jika waktu sore hari ayah mengajak saya ke tempat kerjanya disana ayah mengumpulkan bekas koran bacaan yang sudah usang dan dikumpulkannya hingga banyak dan kamipun pulang dengan membawanya.
"Rupanya ayah punya rencana lain ia ingin menjual bekas koran itu ke pedagang yang membutuhkannya" walau Cuma di hargai murah dan itu seingat saya ayah dan saya lakukan beberapa kali.

Masih terekam juga dalam benak saya rata-rata koran yang ayah jual adalah koran harian suara Karya, aku tak tahu apakah koran itu masih ada atau tidak.Walaupun ayah Cuma pegawai kecil tetapi tanggun jawabnya sebagi ayah sungguh besar hal ini ditunjukin dengan semua anak-anaknya mengenyam pendidikan samapai level universitas paling sedikit level diploma.

Sewaktu saya tamat Sekolah menengah umum 1998 terpaksa saya tidak bisa melanjutakan studi ke perguruan tinggi sebab keterbatasan biaya orang tua dan saya memakluminya. Saya baru melanjutkan studi setelah ayah kami mendapat bayaran konpensasi dari negara kolonialis Portugal kepada bekas pegawainya sebelum negara Timor leste di integrasikan ke negara Indonesia.

Saat ini saya bekerja disebuah BUMN dengan pengahasilan cukup walaupun belum cukup untuk membeli tanah apalagi membangun rumah. Semua kisah yang saya utarakan diatas adalah mengambarkan betapa beratnya ujian kehidupan ini hingga kita mampu berdiri sendiri .Kini saya berkeluarga dengan gadis pilihan saya dan dan kami memiliki 2 orang putra yang sehat dan menambah kebahagian kami dan sekitarnya.

Di temapat kerja saya memghadapi banyak tantangan dan cobaan tetapi semuanya itu saya andalkan Berkat Tuhan Yesus dan pertolongan Bunda Maria agar mendoakan saya dan mohon pula lindungan Roh Kudus agar membimbing saya melewati cobaan di manapun saya berada.

Kepada Santo Mikhael saya berharap dengan Ijin Tuhan Allah agar selalu melindungi saya dari niat jahat sesamaku.


Perjalanan Di Basel-SWISS

Pernah sekali saya bertugas training ke Swiss disana cuaca sangat berbeda dengan yang ada di tempat saya dan dalam suatu kesempatan saya mencoba berjalan menelusuri danau di LUCERNE Swiss dan dengan sangat tiba-tiba cuaca berubah dan hujan turun dan membuat tubuh saya lemas dan seperti mau kaku karena saya terjebak di luar sedangkan hujan mulai turun deras.Didalam hati kecil Saya saya brdoa memohon lindungan dan pertolongan Tuhan Yesus agar menyelamatkan saya dari situasi itu. Dan secara tidak sengaja dalam beberapa langkah saya menemukan sebuah payung bekas yang dibuang di dekat jalan sewaktu saya berjalan kedinginan mau pulang ke apartemen. Apakah ini sebuah kebetulan saja? Sungguh saya merasa Tuhan sungguh menjawab doa saya sehingga saya tidak merasa kedinginan dan bisa selamat.

Sejak masa itu saya menyadari dimanapun saya berada Tuhan tidak pernah lupa mengawasi saya dan itu berlaku untuk semua manusia tentunya.Satu hal yang di jumpai Swiss bahwa kehidupan manusia di sana sudah sangat modern hingga budaya malu dan berciuman di tempat umum telah menjadi suatu hal yang diterima secara umum bukan lagi harus di sembunyikan. Ini membuka mata saya adakah manusia sudah mati hati nuraninya, ataukah manusia sudah tidak peduli lagi dengan norma aturan tertentu. Saya berfikir jika manusia semakin lupa diri maka murka Tuhan akan semakin dekat dan sebelum terlambat marilah kita kembali mengikuti dan mengaplikasikan sepuluh perintah ALLAH maka kehidupan ini akan penuh kedamaian.


TUHAN SAYA BERDOA DARI HATIKU YANG TERDALAM BERKATI PARA ORANG TUA KAMI BERKATILAH AYAH IBU KAMI DAN AMPUNILAH MEREKA BILA DALAM MEMBIMBING KAMI ANAK-ANAKNYA KADANG MEREKA BERBUAT DOSA. TUHAN DALAM NAMA TUHAN YESUS KRISTUS PUTRAMU SANG PENEBUS DOSA MANUSIA KAMI MOHON AMPUNILAH KAMI SELALU JANGANLAH ENGKAU MENUTUP PINTU PERTOBATAN BAGI KAMI TETAPI BEBASKANLAH KAMI DARI YANG JAHAT AGAR KAMI BERSATU DALAM KERAJAANMU DI SORGA AMIN.

Senin, 17 Januari 2011

DILI - KRISTUS RAJA : CRISTO REI

Patung Kristus Raja yang berada di bagian timur kota dili sebenarnya telah ada sejak jaman Timor Leste masih menjadi bagian dari nagara Indonesia. Dibalik maksud tinggi patung 27 meter adalah simbol politik yang melambangkan Timor timur adalah propinsi ke 27 dari Indonesia. Tapi tak apalaha itu semua adalah sejarah yang tidak terpisah antara ke dua negara. Apapun sejarahnya Patung Kristus raja telah menjadi simbol rohani masyarakat Timor Leste yang mayoritas beragama Roma Katholik.
Selamat datang Ke negara baru Timor Leste dengan Ibu kota Dili. Masyarakat Timor adalah masyarakat yang bisa berbaur dengan segala kultur siapapun anda selama tidak merusak dan berniat jahat dijamin masyarakat Timor akan menerima anda seperti seorang raja yang berkunjung ke rumahnya.

Rabu, 29 Desember 2010

Kilas Balik Tahun 2010

Saat aku mencoba mau memulia tulisan diblog ini terpintas sebuah kalimat ‘’ semua ada waktunya” dan memang saya menyadari dalam menjalani kehidupan di dunia ini sangatlah tidak mudah dan semua yang terjadi hayalah seutas ujian kecil bagi saya untuk bisa tumbuh dewasa dalam bertidak dan beriman kepada Tuhan Yesus Kristus.

Selama tahun 2010 saya telah sedikit belajar menghadapi ujian kehidupan yang berkaitan dengan bagaimana mencurahkan perhatian yang sama terhadap keluarga saudara saya dan anak isteri serta keluarganya. Sungguh sebuah pembelajaran yang baru buat saya karena harus seadil-adilnya membagi waktu perhataian dan sedikit materi bagi semuanya agar tidak terjadi ketimpangan.

Saya sungguh bersukur kepada Tuhan Allah melalui Tuhan Yesus dan kekudusan Roh Kudus sebab kehidaran berkat dan lindungan Merekalah saya mampu bertahan melalui cobaan hidup di tahun 2010 ini. tak Lupa pula saya sampaikan puji syukurku pada Bunda maria melalui penguatan daonya sehingga semua permohonan saya dikabulkan oleh Tuhan pencipta manusia. Saya Berterimah kasih pula kepada santo Michael penghulu bala surga yang mana dengan seijin Tuhan Allah telah melindungi saya dari semua rencana jahat saudara-saudaraku yang di sekitar saya. Terimah kasih Tuhan Berkat dan Lindungan_MU telah Mendamaikan hatiku dalam kehidupan ini.

Bapak Allah Tuhan kami memasuki tahun baru aku mohon berkat dan Lindunganmu selalu. Aku Percaya dan yakin dengan Kebesaran Tuhan Yesus Kristus semua pergumulan hati ini akan terjawab dengan damai. Amin

SELAMAT NATAL 2010 DAN TAHUN BARU 2011

Senin, 19 Juli 2010

The Best Mom Ever

Cerita ini di kutip darihttp://www.perempuan.com/index.

Suatu malam, aku bertengkar dengan ibuku. Karena sangat marah, aku segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Saat berjalan aku baru menyadari bahwa aku sama sekali tidak membawa uang. Saat menyusuri sebuah jalan, aku melewati sebuah kedai bakmi dan mencium harumnya aroma masakan. aku ingin sekali memesan semangkuk bakmi, tetapi tidak mempunyai uang.

Pemilik kedai melihat kearahku berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata: “Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?”

“Ya, tetapi, aku tidak membawa uang”, jawabku dengan malu-malu.

“Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu”, jawab si pemilik kedai. “Silakan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu”.

Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi.

Aku segera makan beberapa suap, kemudian air mataku mulai berlinang.

“Ada apa nona?”, tanya si pemilik kedai.

“Tidak apa-apa, aku hanya terharu" jawabku sambil mengeringkan air mata.

Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi ! Tetapi, ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi

Bapak itu, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri. Aku berkeluh kesah kepada pemilik kedai mengenai hal ini.

Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataanku, menarik nafas panjang lalu berkata, “Nona, mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi untukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya”. Aku sempat kaget mendengar hal itu.

Mengapa aku tidak berpikir tentang hal itu? Untuk semangkuk bakmi dari orang yang baru kukenal , aku begitu berterima kasih. Tetapi kepada ibuku yg memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya

AKu segera menghabiskan bakmi, lalu aku menguatkan diri untuk segera pulang ke rumah. Saat berjalan ke rumah, aku memikirkan kata-kata yg harus diucapkan kepada ibu. Begitu sampai di ambang pintu rumah, aku melihat ibu berwajah letih dan cemas. Ketika bertemu dengannya, kalimat pertama yang keluar dari mulut ibu adalah,”Nak, kau sudah pulang. Cepat masuklah, Ibu telah menyiapkan makan malam. Makanlah dahulu sebelum kau tidur. Makanan akan dingin jika kau tidak memakannya sekarang”.

Aku tidak dapat menahan tangis. Aku pun menangis di pelukan ibu.

Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kepada orang lain di sekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan kepada kita. Tetapi kepada orang yang sangat dekat dengan kita, khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita berterima kasih kepada mereka seumur hidup kita. Kadang-kadang, kita sulit atau lebih tepatnya tidak mau untuk melihat dan menghargai pertolongan yang diberikan oleh orang-orang yang sudah sangat kita kenal. Untuk menghargai cinta kasih mereka. Kita menganggap itu sebagai suatu keharusan. Sebuah kewajiban.

Kamis, 04 Maret 2010

Sebuah Tali Yang Tak Pernah Putus

Kisah Ini Patut Untuk Direnungkan, Sebagai Manuasia Kita Mesti Berbuat Kasih Kepada Sesama Kita, Mulai Hari Ini Jika anda Membaca Kisah Ini semoga Bisa Membawa Cara Pandang Anda Akan Cara Mulia Memperlakukan Orang Tua Kita Masing-Masing.
============================================================
Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih. Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah. Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak.

Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. “Kita harus lakukan sesuatu, ” ujar sang suami. “Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk pak tua ini.” Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan. Disana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan mangkuk kayu untuk si kakek.

Sering, saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi. Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam.

Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. “Kamu sedang membuat apa?” Anaknya menjawab, “Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu untuk makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat kakek biasa makan.” Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.

Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, airmatapun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki. Malam itu, mereka menuntun tangan si kakek untuk kembali makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama.

Anak-anak adalah persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan. Mereka adalah peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa kelak. Orangtua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap “bangunan jiwa” yang disusun, adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anak.

Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk anak-anak kita, untuk masa depan kita, untuk semuanya. Sebab, untuk mereka lah kita akan selalu belajar, bahwa berbuat baik pada orang lain, adalah sama halnya dengan tabungan masa depan.